17 Ramadhan dan Kisah di Gampong Sejarah

Di malam dingin mencekam dan hening kelam tanpa suara di Gua Hira pada 17 Ramadhan yang bersejarah itu,  Nabi Muhammad ketakutan sendiri karena mendapat wahyu pertama yang  diturunkan Tuhan. Sekujur tubuh laki-laki Makkah itu tenggelam dalam keringatnya sendiri. Begitulah beratnya menerima sepotong kata dari Tuhan. Malam itu disebut malam nuzulul Quran.

Kita semua tahu apa isi wahyu pertama itu, wahyu yang membuat sang penerima sakit berhari-hari setelahnya. Pepatah lama kita, ‘dengan membaca, jendela dunia terbuka bagi anda,’ sepenuhnya  benar. Hampir seribu lima belas abad lalu, kia sudah tahu itu.

Malam nuzul Quran itu malam titik berangkat sebuah agama langit yang kita anut, agama yang tumbuh pertama di tanah Arab, agama yang bernama Islam. Bagi yang tak mempercayai agama, cukuplah saja mengakui, keyakinan itu sebuah budaya yang bertahan ribuan tahun Gampong kita yang besar ini, Gampong yang bernama Aceh. Bagi Ateis itu bukan mengakui agama, namun mengakui bahwa agama telah jadi fenomenal budaya vital selama ribuan tahun di aGampong kita yang besar ini.

Di masa silam Aceh, sebelum kemaharajaan bertamaddun tinggi kita diporak-poranda bajingan Belanda, budaya membaca Aceh sangat tinggi bila dibandingkan negeri lain masa itu. Kenyataan lampau itu telah musnah, hanya dapat ditemui sedikit dari secuil pustaka tua, Tgk Chik Tanoh Abee.  Kenyataan  ini mencerminkan Aceh telah berbudaya jiwa membaca sejak ratusan tahun lalu.

Ribuan bukti selain pustaka tua itu telah dibumi-apikan Belanda tak beradab di akhir abad sembilan belas Masehi. Namun, lahirnya karya sastra bernilai tinggi nan indah seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, Hikayat Prang Peuringgi, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Putroe Geumbak Meuh, dsb. adalah bukti fenomenal lain, bahwa hanya bangsa yang berbudaya membaca tinggi mampu menghadirkan karya sastra bermutu tinggi nan indah.

Telah diakui peneliti Barat, Hikayat Prang Sabi, sepanjang sejarah manusia, satu-satunya puisi panjang yang sanggup mengobarkan api semangat komunitas besar masyarakat untuk berperang sampai menang atau tewas. Mereka bilang, tulisan itu berdaya magis ampuh dari sejuta arwah penyihir yang bersatu dalam puisi sakti.

Masyarakat Aceh di silam itu membaca hikayat di pedium-pedium seantero Gampong. Setiap tahun di setiap Gampong kecil dalam Gampong kita yang besar ini, dikukuhkan pertunjukan baca hikayat sampai beberapa kali. Ketika pembacaan hikayat pedium diselenggarkan, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan mendengar pembacaan puisi balada berirama syahdu itu dalam temaram purnama. Ya, temaram purnama, karena baca hikayat dibuat ketika bulan terang.

Ibu-ibu membawa tikar, ayunan bayi, makanan ringan, selimut, bekal menyaksikan pembacaaan hikayat oleh penyair di pedium berlampu panyot culot, yang biasanya sampai dini hari setiap malam dalam sepekan.

Masa itu, naskah harus ditulis manual, belum lahir Guttenberg, bocah jenius berkebangsaan Jerman, penemu mesin cetak itu. Agar dapat dinikmati public, maka, dilaksanakan pembacaan puisi balada itu di podium dengan persiapan matang. Berbeda dengan penikmat karya tulis zaman ini yang bisa mendapatkan buku sebanyak yang diinginkan.

Sudah tiba masanya kita panggil kembali roh suka membaca rakyat Aceh yang sudah hilang lebih seratus tahun bersama perang licik. Dalam hal ini pemerintah Aceh sekarang seyogyanya membuat iklan-iklan penyeru membudayakan membaca masyarakat Aceh. Buatlah baliho-baliho, spanduk-spanduk seantero Aceh, iklankan di media elektronik, dan selipkan seruan tak lansung dalam klip-klip film dan lagu Aceh sekarang.

Fasilitasilah media baca, seperti bulletin-buletin berisi pesan moral, dsb. Jika hal ini dilakukan, perlahan-lahan Aceh akan maju dalam berfikir, tidak lagi preh dahoh dan peusalah gop. Selain pemerintah, ulama-ulama pun harus menganjurkan gemar membaca pada masyarakat kita.

Ulama dan tokoh Aceh seyogyanya mensensor buku-buku yang tersebar di toko buku komersial seAceh. Artinya sederhana, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus lebih dahulu membaca buku-buku itu agar tahu mana buku yang sesuai dengan islam dan mana buku sekuler materialis.

Hal ini ironi, mengingat ulama kini mencibir buku-buku yang  berserakan di toko, tetapi, para pelajar, mahasiswa, masyarakat pencinta buku, membacanya. Sehingga pemikiran-pemikiran yang tergelincir dari tauhid diserap mayarakat. Pemikiran rakyat Aceh terbelah karenanya.

Sedangkan Teungku-Tengku sibuk dengan kebijaksanaan beragama secara konvesional, tanpa menyadari, hati umat Islam Aceh telah dicuri orang dari jauh. Jauh sekali, sehingga takkan mungkin dipanggil pulang bertahun-tahun.

Ibarat mau mengalahkan pencuri professional, orang harus belajar trik pencuri agar dapat mengantisipasi kejahatannya. Begitu pun tokoh agama dan tokoh masyarakat Aceh harus membaca buku-buku itu, sebagai perbandingan agar dapat menyelamatkan ummat yang tauhidnya kurang.

Pemerintah dan ulama sudah saatnya membudayakan membaca rakyat Aceh, memfasilitasi mendapatkan buku-buku bermutu yang sesuai ajaran nabi Muhammmad Saw.

Begitulah, jika mau Aceh bermartabat, kita harus kembali kepada ayat alquran yang pertama diturunkan seperti endatu-endatu kita. Semoga Allah Swt. merahmati mereka di alam baqa sana. Semoga kita cucu-cucunya dapat membaca tanda-tanda zaman ini. Amin!

Begitulah, kalau kita mau Gampong kita yang besar ini maju. Kalau kita tak melakukannya, boleh saja, tapi orang di Pulau Jawa itu sudah melakukannya. Tentulah kita tak mau tertinggal seperti kemarin.

****

Zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami, hiburan komersial milik kartel India di pulau seberang.

Syukur, bila kita dilahirkan dengan hobi membaca, dapat kawan juga hobi membaca. Dan lebih senang lagi kalau tetangga juga hobi membaca. Apalagi yang hobi membaca puasa memiliki banyak koleksi buku bacaan.

Ada juga yang hobi membaca, tapi tak ada koleksi buku untuk membaca. Nah, yang model peminjam buku begini banyak, termasuk penulis ini. Ada juga orang yang merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.

Perintah membaca dari Tuhan kita mencakup dua dimensi, yakni, tersurat dan tersurat.  Ada yang pintar membaca keduanya. Secara tersurat terbaca di naskah Quran, dan membaca keadaan sekitar disebut tersirat.

Kisah di Sebuah Gampong

Kendati kesejahteraan Gampong itu pada tingkat menengah, pengaruh yang tidak sehat terhadap siswa, pelajar, remaja dan pemuda desa pastilah ada. Penyakit sosial masyarakat telah berkeliaran di sana, menancapkan pengaruh, yaitu narkoba, pergaulan tidak sehat dan kurangnya sarana untuk menyalurkan kegiatan yang positif.

Rasa kegelisahan tersebut sangat menghantui orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya.  Fahmi, seorang pemuda gampong Muenasah Timu pun merasakan keresahan itu. Ia menginginkan remaja dan pemuda di Gampong itu mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan yang positif.

Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen.

Untuk mewujudkannya, Fahmi mengajak remaja dan pemuda  sekitar rumahnya untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Syukur, keinginan tersebut disambut baik oleh adek-adek  sekitar rumahnya. Ia juga merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.

Kebetulan, di depan rumah Fahmi, ada sebuah kios kosong yang tidak di pakai lagi. Kios yang dibangun tahun 1990 berdinding papan sudah nampak renggang. Kios itu kalau dilihat dari depan sudah miring ke kanan dan atapnya bocor.

Kios itu pun dibersihkan oleh para muda penyuka baca. Atapnya yang bocor ditempel kembali. Untuk plafon mereka pakek bungkusan zak semen, senagai alternatif karena tak sanggup beli triplek. Lalu, agar sedikit artistik mereka dekor model stalakmit dalam sebuah gua. Setelah selesai, akhirnya kios yang memang dasarnya jelek itu jadilah sulapan sebuah lorong dalam gua dan gelap.

Karena tempat ini akan jadi tempat berteduh untuk membaca dan belajar, penyuka baca di sana pun memberi nama Guahira. Nama itu mereka adopsi dari nama Gua Hira’, tempat pertama kali turunnya ayat ayat Al Quran di waktu Nabi Muhammad Saw ber-khalwat di gua angker tersebut. Ayat itu menerangkan, “Allah menciptakan manusia dari benda yang hina.

Kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi  konon, manusia tidak ingat lagi akan asalnya, karena itu ada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bahkan ada yang  bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.

Setelah satu bulan menepati tampat baca baru, para penyuka baca di Gampong kecil itu ngumpul bersama dan mengajak kawan lain untuk belajar bersama di komunitas itu. Masyarakat di sekitar pun amat  mendukung kegiatannya. Seiring penambahan anggota baru, koleksi buku pustaka itu pun bertambah.

Penyuka baca Gampong termaksud  membentuk komunitas di rumah hadiah guna itu. Rumah baca pun jadilah tempat kajian keislaman dan umum, juga jadi tempat belajar komputer . Bersama berjalannya waktu,  mereka sepakat membentuk taman bacaan gampong.

Taman bacaan itu terealisasi berkat penyuka baca yang bersatu dan bersemangat tinggi. Mereka mencari alamat baru untuk Guahira, yaitu http://www.guahira.or.id. Perintah bacalah  mereka praktikkan, dan akhirnya mereka pintar membaca, lalu lahirlah situs itu. Itu hanya satu contoh dekat gebrakan membaca di Gampong kita yang besar ini.

Pada satu kesempatan, penyuka baca Gampong itu mendapat tambahan buku, yang terbanyak disumbangkan oleh keluarga (Alm) Zulkifli, pengelola toko buku ‘Pustaka Almuslim’. Berkat sumbanganya, pustaka mini itu dapat mengeloksi ratusan buku. Tentulah para penyuka baca di sana girang dan melompat bagai anak ayam kedapatan sebuah kamtung jagung.

Setelah melihat komunitas baca itu berkembangan pesat dan masyarakat Gampong itu mendukung, para pengurus belajar dan menbaca itu didaftarkan menjadi sebuah lembaga kuat dan berbadan hukum. Tepat pada 20 Desember 2003 kelompok belajar Guahira resmi menjadi Yayasan berdasarkan akte Notaris Abdullah Ismail, SH. Akte dengan NOMOR:15.HT.20.12-TH.2003.

Gampong kecil itu bernama Meunasah Timu, sebuah Gampong  secara administrasi masuk dalam Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Meunasah Timu memiliki luas wilayah 47,3 ha dengan 19 ha adalah sawah. Gampong  kecil itu punya tiga lingkungan, yakni, lingkungan T. Assalam, lingkungan T. Cut Ali dan lingkungan Affan.

Bila mahu ke Gampong kecil itu, mudah saja, kita naik kenderaan darat  selama kira-kira 15 menit,  kita tempuh jalan sejauh 10 km dari pusat kota kabupaten Bireuen. Dan tibalah di Gampong kecil itu. Lokasinya di tepi utara pusat kota Matangglumpangdua, ibu kota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan Sate Matang.

Masyarakat Menasah Timu mempunyai karakteristik urban tingkat kesejahteraan berada pada tingkat menengah. Jumlah penduduk mencapai 1756 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 370. Mayoritas penduduknya berprofesi PNS.  Bila kita rinci, 50 persen PNS, wiraswasta 35 persen, petani sebanyak 10 persen, dan lain-lain 5 persen.

Suatu ketika, pengelola uang takziah Aceh-Nias membuat program pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM)  di Gampong itu melalui Satket terkait propinsi Aceh. Maka Yayasan Guahira Community Meunasah Timu, Kelurahan Matang Glumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipercayakan untuk mengelola TBM tersebut.

Begitulah kisah para penyuka baca di Gampong kecil itu. Dan pada Rabu, 11 Juli 2007, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, meresmikan Taman Bacaan Masyarakat Guahira Community di Gampong itu. Taman Baca Guahira pun jadi TBM pertama dan sampai kini satu-satunya di Kabupaten Bireuen. Taman Bacaan Guahira dikelola oleh Yayasan Guahira.

Kisah tadi hanya satu di antara sekian banyak kisah di Gampong kecil seantero Aceh. Kita bisa melihat sendiri, apa yang berguna dan apa yang sia-sia dilakukan. Terserah saja. Di Gampong kita yang besar ini tidak ada peraturan tentang menempuh cara hidup. Gampong kita ini adalah Gampong tak bertuan. Masing masing tokoh kita hanya pikirkan diri dan keluarganya.

Gampong kita ini sedang menghadapi pancaroba identitas dirinya yang hilang ditelan musim tak bernama, di ujung sebuah keputusan tak terbukti. Gampong kita yang besar ini sedang mencari kesempurnaan yang telah puluhan tahun ditinggalkan orang, karena itu dianggap kuno.

Tidak ada yang pasti di Gampong kita ini. Nuzulul Quran tak pernah diperingati lagi. Kalu pun ada hanya seremoni, bukan menghayati pesan Tuhan dalam ayat itu. Mungkin pula kita menganggap  peringatan malam turun wahyu pertama untuk Nabi Muhammad itu memang tak perlu sama sekali.  Lihatlah sendiri di Gampong kita yang besar ini. Kesejatian Quran telah hilang semisal hilangnya kelam karena pagi datang. Kesejatian Quran hanya waktu MTQ dan di meunasah tuha yang lampunya sering mati akhir-akhir ini. Lampu wahyu bercahaya pedoman hidup manusia sebagian memang telah padam.(thy)

Sumber: Harian-aceh.com

Tags: ,

RSS 2.0 feed. Reply to post, or trackback.

Leave a Reply