Universitas Almuslim Bireuen Memasuki Priode Perkembangannya
Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan merupakan lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Almuslim Peusangan. Di mana, universitas ini merupakan penggabungan beberapa sekolah tinggi dan akademi pada tahun 2003 sebagaimana Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 02/D/2003 Tanggal 15 Januari.
Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan merupakan lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Almuslim Peusangan. Di mana, universitas ini merupakan penggabungan beberapa sekolah tinggi dan akademi pada tahun 2003 sebagaimana Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 02/D/2003 Tanggal 15 Januari.
Seiring dengan terbentuknya universitas maka Unimus kini memiliki sejumlah fakultas dan akademi, yakni; Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ilmu sosial dan Politik (Fisipol), Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Teknik, dan Program Diploma III Kebidanan.
Waktu terus bergulir, seirama itu pula pintalan sejarah menorehkannya. Pasca terbentuknya Unimus, tentu saja ini memerlukan orang-orang cerdas—pintar, dan punya naluri keilmuan yang matang untuk mewujudkan universitas kebanggan masyarakat Peusangan ini, layaknya seperti sekarang ini.
Kepada Waspada, Rektor Almuslim Peusangan, Drs. H. Amiruddin Idris, SE, M.Si menuturkan, dalam perjalanan waktu, universitas ini bagaikan bulan yang selalu mempengaruhi air laut hingga terjadi pasang-surut sepanjang masa.
“Itu adalah konsekwensi logis dari sebuah perjuangan, namun yang perlu kita sikapi bersama adalah Universitas Almuslim telah dan masih perlu banyak berbuat untuk kemajuan dan peningkatan SDM di Aceh umumnya, Kabupaten Bireuen khususnya.
Bermula dari gedung dan sarana/prasarana lain seadanya, namun keberadaannya ikut dan memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Aceh itu sendiri. Pun tak sebesar harapan, tak setinggi keinginan dan cita-cita pendirinya. Namun, kegigihan penerus yayasan ini patut dihargai.
Kendati sejumlah Perguruan Tinggi lainnya bermunculan, begitupun Unimus ini tetap tampil laksana purnama. Meski sinarannya tak seterang mercury malam, namun memiliki pikatan dalam nuansa romansa malam konfliknya Aceh sepanjang masa. Seperti itulah
realitanya.
Walau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ini megap-megap di tengah pusaran konflik Aceh yang berkepanjangan, di mana situasi negeri tengah terancam disintegrasi ditambah performan bangsa yang carut-marut. Namun tekad dan semangat putra kelahiran 5 Agustus 1957 itu dalam mewujudkan cita-cita pendiri Yayasan Al-muslim Peusangan tak pernah goyah.
Sesuatu yang wajar, tahun 2000 hingga 2003, berkat kemampuannya dipercayakan melaksanakan tugas sebagai Dektor Perguruan Tinggi Almuslim Peusangan dalam upaya terbentuknya Universitas Almuslim Peusangan tahun 2003, yang pimpinan pucak menjadi tanggung jawabnya sejak tahun 2004 hingga sekarang.
Sebelum dipercayakan sebagai Rektor Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan, Amiruddin Idris telah mendarmabaktikan segenap usaha dan pikirannya pada yayasan pendidikan kebanggaan masyarakat Peusangan itu.
Berdasarkan dokumentasi di Yayasan Almuslim Peusangan, tahun 1985 hingga 1987, ayah dari empat putra-putri ini menjabat sebagai Pembantu Ketua I Bidang Administrasi Akademik dan dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Perguruan Tinggi Almuslim Peusangan.
Kemudian, tahun 1987 hingga 1993, Drs. Amiruddin Idris kembali dipercayakan pada bidang yang sama di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yayasan ini. Tahun 1998-2000 menjadi direktur dan dosen pada Akademi Manajemen Informatika dan Komputer, dan sejak tahun 1997 berstatus dosen negeri yang ditempatkan pada Universitas Almuslim (Unimus) Peusangan.
Lelaki lulusan Pasca Sarjana di Universitas Syiah Kuala ini juga pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Perguruan Tinggi Almuslim pada tahun 1998 hingga 2000.
Karenanya, diakui atau tidak peran Drs. H. Amiruddin Idris, SE, M.Si yang kini menjabat Rektor Unimus tersebut telah ikut mewujudkan Perguruan Tinggi ini sebagaimana megahnya hari ini. Tak ayal, banyak kalangan menilai, jabatan rektor yang dijabatnya bukan atas dasar kepentingan individu atau kelompok. Namun, disebabkan gaya dan perilaku kepemimpinannya yang membuatnya harus bercokol di posisi itu. Begitupun semua itu tak terlepas dengan dedikasi pengabdiannya yang panjang di universitas dimaksud.
Tentunya, kemajuan Unimus sekarang bukan perjuangannya semata. Namun, lebih dari itu adalah karya bersama hingga akhirnya berbuah nyata. Tapi kemampuan seorang pimpinan untuk mengoordinir segala sumber daya yang ada pasti sangat menentukan baik atau tidaknya sebuah organisasi layaknya lembaga Perguruan Tinggi ini. Karenanya, tak berlebihan jika sosok Amiruddin Idris yang telah begitu banyaknya memberikan hasil positif dan pendidikan signifikan ini patut diberi puji, dan apresiatifnya yang membanggakan.
Pengelolaan Unimus yang berstatus swasta, menurutnya, tak sedikit dirundung kendala. “Kalau Perguruan Tinggi Swasta kita juga dituntut untuk mencari dana dan bagiamana pemanfaatannya guna operasionalisasi secara menyeluruh,” ungkapnya menjelaskan.
Kendali lainnya, kata Amiruddin Idris lagi, Unimus belum mampu menjamin kesejahteraan dosen dan tenaga administrasi lainnya. Sehingga sejumlah tenaga yang telah dibiayai pendidikannya kejenjang program pasca sarjana dan doktor ternyata hengkang ke tempat lain yang lebih menjanjikan.
Jika diharapkan dari SPP mahasiswa, jumlahnya terbatas. Bila untuk membangun sejumlah gedung dan membeli peralatan seperti sekarang ini, tentu saja jauh tak tergapaikan. Namun, untuk menutupi segala kekurangan dari berebagai kebutuhan yang harus dipenuhi, maka seorang pimpinan dituntut berkemampuan tinggi sedianya gigih mencari pundit-pundi lewat funding-funding tertentu atau sumber dana lainnya.
Alhasil, sejak tahun 2006, Universitas Almuslim Peusangan berhasil menggaet donatur dari negara Italia. “Setelah mendapat bantuan dari negara ini lah Universitas Almuslim kelihatan lebih maju,” ungkap Amiruddin seraya mengatakan, kondisi sekarang mampu merubah sikap masyarakat yang semula ogah kuliah menjadi sebaliknya.
Kini, Universitas Almuslim Peusangan memiliki 57 ruang belajar, tiga unit laboratorium komputer multimedia, satu unit laboratorium bahasa, dua unit laboratorium micro teaching, tiga unit laboratorium MIPA, ruang internet, studio gambar teknik, perpustakaan induk, laboratorium kebidanan, serta sejumlah gedung dan pusat administrasi lainnya yang patut dibanggakan.
Dengan kelengkapan sarana dan prasarana serta kemampuan tenaga yang dimiliki, pada tahun 2007, Unimus Peusangan berhasil memenangkan beberapa Program Hibah Kompetisi (PHK) dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional, yaitu program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Strata Satu (S1) dengan judul program “Peningkatan Relevansi dan Manajemen Penyelenggaraan Program Pendidikan”. “Dan, ini satu-satunya di Aceh,” sebut Rektor Amiruddin Idris lagi.
Selain itu, Unimus juga meraih hibah sistem PPL dan Micro Teaching, serta Hibah Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (INHERENT K-3). Bahkan, untuk pengelolaan PGSD tingkat sarjana ini, Universitas Almuslim Peusangan dibiayai dan difasilitasi oleh Menteri Pendidikan RI selama dua tahun. “Ini suatu kepercayaan yang luar biasa dari menteri untuk Unimus,” cetus Amiruddin seraya mengatakan kerjasama lainnya berupa program Double Degree dengan beberapa Universitas di Malaysia adalah sebuah karya nyata dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan.
Sebelumnya, kredibilitas Unimus dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Aceh juga terbukti menyusul dipercayakan sebagai pelaksana Uji Sertifikasi Guru dalam rangka peningkatan lulusan kualitas alumni di sekolah-sekolah.
Kecuali itu, tumbuh dan berkembangnya Unimus juga sangat didorong oleh minat masyarakat setempat yang ditandai banyaknya putra-putri di Aceh, Bireuen, khususnya mempercayakan Unimus sebagai tempat mereka menimba ilmu.
Karenanya, kepercayaan tersebut juga memacu Amiruddin Idris untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya. Pemantapan kurikulum serta peningkatan kualitas tenaga pendidik terus diupayakan termasuk memberikan kesempatan belajar bagi dosen di sejumlah universitas baik dalam maupun luar negeri.
Untuk itu, koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Provinsi NAD, Pemerintah Pusat, Direktorat Pendidikan Tinggi di Jakarta, serta Kopertis Wilayah I Medan tetap terus dilakukan. Hal ini demi terciptanya satu sinergisitas dan energisitas yang baik, sehingga lulusannya pun mempunyai kualitas memadai. Yang pada gilirannya ikut pula memberikan satu simbiosis mutualisme (saling hidup menghidupi) secara sempurna.
Dengan demikian, diharapkan Universitas Almuslim Peusangan merupakan lembaga pendidikan tinggi profesional dalam menghasilkan SDM yang berkualitas. Tak sebatas bidang ilmu pendidikan, teknologi, tenaga kesehatan, ekonomi, namun juga dimensi humaniora. Semoga


